Oleh: Ummu hanik | 30 Juli 2010

Prasangka negatif

Apakah kita pernah merasa bahwa kita sudah menjadi tetangga yang baik? Tentu saja perasaan itu pernah ada, terlebih saya. Perasaan itu biasanya timbul disaat kita telah memberikan sebuah kebaikan pada tetangga yang kita sayangi.

Apakah kita pernah merasa mendzalimi tetangga? Tentu akan banyak yang mengatakan; “Rasanya nggak pernah tuh!” Tapi perasaan itu seringkali timbul di diriku. Padahal sebelumnya saya tidak sesensitif itu dulunya. Perasaan itu timbul karena dipicu oleh banyaknya hikmah yang ditebar oleh tetanggaku. Lho kenapa bisa? Mungkin ada yang bertanya demikian?Banyak instropeksi diri yang harus saya lakukan, setelah banyak menerima sentuhan mereka. Beberapa tahun lampau, disaat cobaan datang bertubi-tubi dari Allah Swt. Kami sekeluarga berlangganan dokter dan rumah sakit. Hingga ada yang mengatakan: “Kok sakit terus?” Atau ada pula yang mengatakan :” Anakku tidak pernah sakit parah tuh, walau pun tidak dijaga seperti kamu!”

Atau saat saya sakit dan mencium masakan yang beraroma harum, sungguh saya merasa ingin pula mencicipinya. Tapi apalah daya, tentu saya malu untuk meminta barang sesendok untuk saya nikmati. Untuk memasak sendiri? Saya masih lemah, Sementara tak ada seorang pembantu pun dirumah. Padahal anak-anak masih balita.

Kemudian pada tahun lalu, saat seorang tetangga memelihara beberapa ayam ras. Ayam tersebut dipelihara dengan cara melepaskannya untuk mencari makanan sendiri. Ayam yang biasa saya sebut ayam bule’ tersebut dipelihara dengan cara kampung. Ayam-ayam bule’ ini seringkali mengunjungi teras depan rumah saya, baik pada pagi maupun sore hari. Hingga nongkrong di kursi teras dan meninggalkan beberapa buah “tanda matanya”. Tentu kedatangannya membuat daftar pekerjaan menjadi panjang.

Setelah kejadian-kejadian yang menimpa saya tersebut, membuat mata saya lebih terbuka. Ternyata memang banyak hal yang seringkali kita lakukan tapi tidak kita sadari, membuat orang lain terluka. Ada hal-hal yang kita anggap sebuah gurauan tetapi sesungguhnya sangat menyakitkan bagi orang lain.

Saat saya bertandang ke sebuah rumah, bagaimana tuan rumah menerima dengan senyum lebar dan muka berseri-seri. Tentu saja saya merasa diterima dengan senang hati. Tentu hal positip ini harusnya dapat saya lakoni pula, agar setiap tamu yang datang dapat merasakan keindahan penerimaan tuan rumah. Tapi… kehendak kita seringkali tidak terwujud. Saat anak-anak kurang sehat ditambah hal lainnya, ternyata kita tidak bisa maksimal berbuat demikian.

Malahan kadang hati berkata :” Ya Allah engkau Maha Tahu keadaanku saat ini. Bantulah agar sang tamu ini tidak berlama-lama nginapnya.” Perasaan ini menandakan tamu yang datang membuat beban bagi kita. Dan yang lebih parah, bila tamu harus serba dilayani. Memang sih tamu harus dihormati selama tiga hari, setelah itu? Terserah deh…

Akhirnya saya membuat catatan sendiri. Bahwa bila seseorang itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, mungkin ada sesuatu yang menggantung yang memberatkan pikirannya. Pikiran yang negatip terhadap seseorang akhirnya bisa tergantikan dengan perasaan lebih berlapang dada. Karena memang pada dasarnya. kita adalah makhluk lemah, yang tidak punya kemampuan apapun, bila yang empunya kekuatan ( Allah Swt. ) tidak menggerakkan kita.

Memang sangat berat mengganti pemikiran yang sudah banyak tertanam pada jiwa kita. Jika kita sudah tahu karakter seseorang yang suka menadahkan tangan bila ke rumah, maka bila seseorang itu menyetor mukanya suatu hari dihadapan kita, maka hati akan berbisik ; “Pasti mau minta lagi!”. Padahal itu kan belum tentu.

Begitu pula, bila ada seseorang yang membawa map dan mengetuk pintu kita, maka kita akan berpikiran : “Pasti orang ini mau minta sumbangan!”. Kita telah mengikat pemikiran kita tentang bagaimana bentuk seseorang dan apa yang diinginkannya lewat penampilannya. Padahal itu belum tentu dengan apa yang kita sangkakan.

Prasangka adalah sebuah sifat yang sebaiknya tidak kita pelihara. Karena menurut Imam Gazali, hati adalah bagaikan sebuah cermin. Cermin yang buram karena banyaknya kotoran melekat, membuat kita susah untuk melihat pantulan apa yang didalamnya. Begitulah hati, bila selalu disemprot dengan kejelekan akan susah untuk menerima hidayah dari Allah Swt. Kadang banyak hal yang memang sesuai prasangka kita. Tapi sebuah prasangka negatif adalah sebuah hal yang terlarang di dalam agama kita.

Jadi kesimpulannya, bahwa memang diperlukan pembelajaran terus menerus pada diri kita untuk selalu bersih dari persangkaan. Karena bagaimana pun bentuk seseorang. Bagaimanapun jejak yang telah ditorehkannya pada diri kita. Mungkin setelah beberapa waktu, mereka telah berubah. Bahkan mungkin lebih baik dari diri kita, yang kita sangka SANGAT BAIK!

Sengata 15 Februari 2010

Halimah Taslima

Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

Halimahtaslima@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: