Oleh: Ummu hanik | 30 Juli 2010

Bahasa untuk kekhyusu’an

Imam Ibnul jauzi menceritakan dalam kitabnya Akhbarul Hamqa Wal Mughaffalin bahwa suatu hari ada seorang imam mengimami shalat jahriyah (entah shalat shubuh atau ‘isya, saya lupa) dibelakangnya ada para makmum yang kebanyakan mereka awam dalam masalah agama. Selesai membaca Al-Fatihah, imam ini melanjutkan dengan membaca suatu surat, mulailah ia membaca, “Alif laam miim,” (awal surat Al-Baqarah) Para makmum ketika mendengar itu langsung bubar “melarikan diri”, tak jadi shalat di belakangnya. Si imam tatkala mengetahui kalau para makmum di belakangnya bubar, segera membaca, “Qul huwallahu ahad,” (awal surat Al-Ikhlas) Mendengar imam mengganti bacaannya, segeralah para makmum berhamburan ke dalam masjid untuk shalat di belakang imam itu lagi.

Ketika saya membaca cerita itu saya tertawa terpingkal-pingkal. “Memang ada-ada saja orang-orang awam itu, masak sampai sekocak itu.” Itu yang ada di pikiran saya, kemudian saya berpikir lagi, “Kalau di zaman Ibnul Jauzi ada yang seperti itu, apa mungkin di zaman sekarang juga ada orang-orang seperti itu? ” Wallahu a’lam, sampai sekarang saya belum dapati. Mungkin saja di daerah lain ada yang seperti mereka dan belum saya temui.

Dari cerita di atas, kita bisa mengetahui sedikit banyak gambaran atau pandangan orang awam tentang shalat. Mungkin banyak orang awam mengerjakan shalat hanya sekedar untuk melepaskan beban kewajiban shalat yang dipikulkan kepada mereka, karena itu bagi mereka makin cepat dan singkat waktu penunaian shalat, maka makin menambah “kebahagiaan” mereka, akan tetapi sebaliknya, makin lama dan panjang penunaian shalat, maka bagi mereka itu makin menambah “penderitaan” mereka.

Seandainya mereka mengetahui banyaknya rahasia dan faidah yang terkandung dalam shalat, tentu mereka akan bersemangat mengerjakannya dan berusaha khusyu’ dalam menunaikannya, karena dengan khusyu’lah mereka akan merasakan cahaya, kesejukan dan kenikmatan shalat yang tiada taranya, sesuatu yang merupakan keinginan kita semua tentunya. Karena itu orang-orang yang khusyu’ sebelum kita apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabatnya dan orang-orang saleh setelah mereka, mereka tetap menikmati dan merasakan kelezatan shalat, betapapun panjangnya bacaan shalat mereka dan betapapun lamanya ruku dan sujud mereka.

Kita tentu ingin seperti mereka, bukan? Karena mereka adalah teladan dan panutan kita. Lantas bagaimana caranya agar kita bisa khusyu’ seperti mereka? Tentu banyak sebabnya, akan tetapi sebab yang paling vital sebagaimana diterangkan para ulama adalah dengan mentadaburi (menghayati) bacaan-bacaan dalam shalat. Nah pertanyaannya adalah, apakah bisa mentadaburi bacaan dalam shalat sehingga kita bisa khusyu’, kalau kita tidak memahami apa yang kita baca (dalam shalat)? Saya rasa 99,999% mustahil. Karena kalau begitu, apa yang kita baca tak ubahnya seperti mantera-mantera atau jampi-jampi yang kita sendiri tak paham apa arti dan maksudnya, atau seperti orang yang mabuk ketika berbicara, ia tentu tak paham apa yang dibicarakannya.

Selain itu pula, apakah mungkin seseorang bisa khusyu’ menangis ketika mendengar imam membaca ayat -ayat tentang siksa, maut dan neraka, kalau ia tak memahami apa yang dibaca imam? Tentu tidak mungkin. Kecuali, apa yang diceritakan seorang ustadz kepada saya mungkin berbeda dan ini pengecualian.

Ceritanya begini, suatu malam di bulan Ramadhan, Ustadz ini dan adiknya pergi untuk menunaikan shalat tarawih di suatu masjid yang terkenal dengan bacaan shalat tarawih yang lama dan panjang. Keilmuan ustadz ini tentu berbeda dengan adiknya. Kalau ustadz ini seorang yang ‘alim (berilmu) dan mengerti sedikit banyaknya tentang tafsir, sedangkan adiknya ini ilmunya pas-pasan, jangankan tafsir, bahasa Arab saja belum mengerti.

Tibalah mereka berdua di masjid yang dituju. Sudah menjadi kebiasaan di masjid itu kalau imam shalat tarawih biasanya membaca surat-surat panjang, 1 juz setiap malam dan bisa lebih dari 1 juz ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Maka mulailah imam membuka shalatnya dengan membaca Al-Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan membaca surat-surat panjang, ketika shalat terasa mulai memanjang dan ketika itu imam mulai melewati ayat-ayat tertentu tentang siksa dan neraka, menangislah imam ini, dan hebatnya, adik ustadz ini menangis pula. Ustadz ini terkejut mendengar adiknya menangis. kemudian seusai shalat, ustadz bertanya kepadanya dengan rasa kagum,”Kenapa tadi nangis ?” Si adik menjawab, “Shalatnya panjang banget!”

Jadi, kekhusyu’an dalam shalat bisa diwujudkan dengan mentadaburi bacaan shalat, dan untuk mentadaburi bacaan shalat haruslah memahami bacaannya dan untuk memahaminya tentu haruslah membaca dan mengkaji tafsir ayat dan hadits yang berhubungan dengan shalat, dan untuk bisa mengkaji keduanya haruslah dengan? Dengan mempelajari bahasa Arab.

Kalau begitu, yuk, kita belajar bahasa Arab, karena selain bisa mengantarkan kita kepada kekhusyu’an shalat, bahasa Arab juga pintu menuju seluruh ilmu syariat, itulah bahasa Al-Quran, bahasa Nabi kita dan bahasa kaum muslimin seluruhnya.

Yuk, kita mempelajarinya, semoga Allah memudahkan kita menuju surga dengan sebabnya.

“Siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

Jakarta, 13 Sya`baan 1431/25 Juli 2010
anungumar@gmail.com

http://www.eramuslim.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: