Oleh: Ummu hanik | 25 Juni 2010

Teruslah berdoa dan ubah diri anda

Hakikat doa adalah penuntun kita melakukan perubahan diri selama menjalani hidup. Hidup itu sendiri tidaklah hitam dan putih. Ia tidak pula seperti laut mati. Ia senantiasa bergerak penuh tantangan dalam rangka pemenuhan aneka kebutuhan. Sebab, hanya melalui kedua hal inilah Allah benar-benar menguji mana hamba-Nya yang tetap pada fitrah dan mana yang tidak……Kekuatan seseorang dalam mengubah dirinya itu jelas merupakan salah satu faktor kunci kesuksesan memburu pertolongan Allah . Oleh karena itu, kalau hidup kita terus-menerus sempit, sekolah tak kunjung rampung, nilai ujian sekolah jelek, utang tak juga terlunasi, jelas ada yang salah pada diri kita. Meskipun demikian, satu hal yang penting untuk disadari adalah bahwa kalau doa kita tidak dikabulkan Allah bukan berarti Dia tidak memperhatikan lagi permohonan hamba-Nya. Boleh jadi penyebabnya ialah karena pelakunya sendiri tidak mau membenahi dirinya, enggan lepas dari kebiasaan-kebiasaan buruk, dan malas meningkatkan ibadahnya kepada Allah.

Siapapun yang ingin doanya dikabulkan oleh Allah, hendaknya ia berusaha mengubah dirinya sendiri. “Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa, padahal engkau sendiri tidak mengubah dirimu dari kebiasaanmu ?” Demikian tukas Ibnu Athaillah di dalam kitabnya al Hikam. Kita telah banyak meminta, banyak berharap kepada Allah, dan saking sibuknya meminta, terkadang membuat kita tidak sempat lagi mengintrospeksi diri kita sendiri. Padahal, kalau kita meminta dan selalu memperbaiki diri, Allah pasti memberi apa yang kita minta karena sebetulnya doa itu adalah pengiring agar kita bisa merubah diri kita. Jika kita tidak pernah mau merubah diri kita menjadi lebih baik maka janganlah berharap doa kita akan dikabulkan Allah. Perubahan diri inilah sebenarnya yang harus kita camkan dalam diri ketika kita punya keinginan. Oleh karena itu, pikirkan secara baik dan benar apa yang harus kita ubah melalui diri kita ini.

Banyak orang yang telah berpuluh tahun hidup dengan harta berlimpah, uang selalu tersedia, pujian dan penghargaan terus berdatangan, namun hidup mereka terasa hampa. Mengapa demikian ? Mungkin karena mereka tidak mendapatkannya melalui berdoa. Akibatnya, nikmat tersebut tidak dirasakan sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada mereka.

Dalam hal ini, penting kita memperhatikan apa yang dinyatakan Ibnu Athaillah :“Tujuan utama berdoa bukanlah meminta, melainkan mengetahui adab dan tata krama seseorang terhadap Tuhan.” Inilah sebenarnya yang kita butuhkan. jadi, doa hendaknya menjadikan kita makin dekat dengan Allah. Dengan doa yang demikian akhlak seseorang pun akan semakin baik. Lalu, bagaimana dengan kebutuhan duniawi ? Percayalah, Gusti Allah iku ora sare. Allah tidak pernah tidur !.

Di dalam Al Quran, tepatnya surah Al Baqarah : 186 Allah telah berfirman : ”Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu, wahai Muhammad, tentang Aku, jawablah : Aku adalah dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berada kepada-Ku. Hendaklah ia memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah ia beriman kepada-Ku agar ia selalu berada di dalam kebenaran.”

Tak bisa dimungkiri, kita seringkali kurang tepat memahami dan menempatkan doa, yakni semata menggunakannya sebagai ajang pelarian dari persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi. Meskipun demikian, persepsi seperti ini sebenarnya tidak terlalu salah dan masih lebih baik dibanding kita berputus asa dari rahmat Allah lalu meminta pertolongan kepada yang selainNya. Oleh karena itu, hendaknya selalu diingat firman Allah :“Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az Zumar : 58).

Kalau kita renungkan lebih jauh, doa yang kita panjatkan kepada Allah itu sejatinya adalah upaya kita mendekatkan diri kepada-Nya sebagai konsekuensi iman kita terhadap-Nya. Doa itu sendiri tidak bisa dimungkiri adalah pengungkapan penghambaan kita kepadaNya. Doa juga bisa dimaknai sebagai pengungkapan kesadaran seseorang akan kelemahan, pengharapan, dan kecintaan darinya kepada Tuhannya.

Sungguh, doa adalah bukti penghambaan dan pengabdian kita kepada Allah yang Maha Kuasa. Maka, kurang tepatlah bila ada anggapan bahwa karena doa kitalah Allah memenuhi permintaan kita. Sebab, dengan demikian, berarti Allah itu tunduk pada perintah makhluk-Nya. Padahal, faktanya kita semua lemah dan butuh pertolongan Allah.

Pilihan terbaik bagi kita, terutama umat Islam, adalah : selalu berdoa kepada Allah atas apa yang menjadi hajat hidup kita sambil terus menerus memperbaiki diri kita. Kalau doa kita tidak segera dikabulkan Allah, mungkin karena kita sendiri tak ada keinginan untuk memperbaiki segala kekurangan yang ada di diri kita. Mungkin saja kita selama ini lalai mengingatNya, kita tak peduli perintah dan laranganNya, kita tak pernah menolong sesama. Pendek kata : berdoalah dan perbaiki diri Anda !

dikutip dari :
Buku : Ajaklah Hatimu Bicara, Muhammad Alain Yanto, Pustaka Pesantren, 2007

Ia seorang aktivis kampus, wajahnya terlihat bersinar, dahinya terlihat warna kehitam – hitaman. Di kampusnya dikenal sosok pemuda yang alim, berbagai kegiatan keagamaan di kampusnya hampir bisa dipastikan ia terlibat didalamnya. Di saat rekan – rekannya masih terlelap tidur, ia terlihat sudah ikut shalat shubuh berjamaah di masjid kampusnya.

Saat ia pulang ke kampungnya, kebetulan seorang kakek tetangganya meninggal dunia. Ia begitu kagum kepada sosok kakek tetangganya itu, karena dengan mata kepalanya sendiri sang kakek meninggal dalam keadaan sangat tenang, sebelum meninggalpun sang kakek dengan lancar mengucapkan kalimat tahlil. Iapun tahu kakek tersebut bukanlah seorang ustadz atau kyai, kehidupannya biasa – biasa saja. Sang kakek hidup dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, sehari – hari kegiatannya menyabit rumput untuk makan kambing peliharaannya, namun ia tidak pernah ketinggalan sholat jamaah di masjid kampungnya. Iapun pendiam, hanya bicara seperlunya saja, tidak pernah mengeluh.

Sehabis shalat isya di masjid, ia menyempatkan diri bersilaturahim ke tempat guru ngaji yang dulu waktu kecil, mengajarkan Surat Al Fatikhah pertama kalinya.

“Alhamdulillah pak, insya alloh shalat jamaah jarang saya tinggalkan, berbagai kegiatan keagamaan di kampus saya, saya usahakan selalu terlibat. Di samping itu seringkali sayapun dijadikan sumber referensi teman – teman saya, sayapun terkadang memberi ceramah di acara – acara kampus.” cerita si aktivis kampus kepada guru ngajinya.

“Alhamdulillah, saya ikut senang kalau begitu… semoga kamu termasuk orang – orang yang diberi anugerah dalam beribadah.” komentar guru ngajinya.

“Namun begini…., setelah melihat kakek tetangga saya meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, saya jadi merenung dan berintrospeksi, apakah saya besok meninggal dalam keadaan seperti itu ?” ungkap si aktivis.

“Kenapa ?” tanya guru ngaji.

“Seringkali setelah saya shalat berjamaah shubuh terutama, dalam hati saya muncul perasaan “senang sekali”, namun setelah itu muncul pula dalam hati “ternyata saya lebih baik dibanding yang lain yang tidak berjamaah”. Tidak berhenti di situ saja, setelah selesai berceramah di depan teman – teman kampus, tidak hanya perasaan senang yang muncul,”sayapun merasa senang ketika dibelakang saya, mereka memuji – muji saya”. Saya jadi bertanya, ikhlas ga amaliah saya atau malah – malah saya riya’ ?” tanya si aktivis.

Mendengar ungkapan aktivis itu, guru ngajinyapun jadi ikut merenung. Kemudian berkata :

”Saya yakin, secara ilmu kamu mungkin lebih mengetahui karena wawasan kamu lebih luas, pendidikanmu lebih tinggi. Namun barangkali saya mengingatkan, seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghozali bahwa apabila didalam diri seseorang yang selesai melakukan suatu ibadah muncul kebahagiaan tanpa berkeinginan memperlihatkannya kepada orang lain maka hal ini tidaklah merusak amalnya karena ibadah yang dilakukan tersebut telah selesai dan keikhlasan terhadap ibadah itu pun sudah selesai dan tidaklah ia menjadi rusak dengan sesuatu yang terjadi setelahnya apalagi apabila ia tidak bersusah payah untuk memperlihatkannya atau membicarakannya. Namun apabila orang itu membicarakannya setelah amal itu dilakukan dan memperlihatkannya maka hal ini ‘berbahaya’.

”Saya tidak menceritakan kepada yang lain, saya hanya merasa senang pak ?” tanya si aktivis.

Guru ngajinyapun menjawab :

”Ya pada awalnya seperti itu….bisikan setan itu teramat halus, pada kondisi – kondisi seperti itu setan mulai membisikkan agar berbuat riya’”

”Ciri – cirinya gimana bisa masuk kategori riya’atau tidak ?” tanya aktivis.

Guru ngajinyapun berkata :

”Menurut pendapat Imam Ali bin Abi Thalib k.w. “Tiga tanda bagi orang yang riya’ adalah malas bila beribadah sendirian, rajin bila beribadah diantara orang banyak, berlebih-lebih ia dalam berbuat amal bila dipuji orang, kurang amalnya bila dicela orang.”

Wallahu a’lam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: