Oleh: Ummu hanik | 25 Juni 2010

Jangan-jangan terpeleset riya’

Ia seorang aktivis kampus, wajahnya terlihat bersinar, dahinya terlihat warna kehitam – hitaman. Di kampusnya dikenal sosok pemuda yang alim, berbagai kegiatan keagamaan di kampusnya hampir bisa dipastikan ia terlibat didalamnya. Di saat rekan – rekannya masih terlelap tidur, ia terlihat sudah ikut shalat shubuh berjamaah di masjid kampusnya…..Saat ia pulang ke kampungnya, kebetulan seorang kakek tetangganya meninggal dunia. Ia begitu kagum kepada sosok kakek tetangganya itu, karena dengan mata kepalanya sendiri sang kakek meninggal dalam keadaan sangat tenang, sebelum meninggalpun sang kakek dengan lancar mengucapkan kalimat tahlil. Iapun tahu kakek tersebut bukanlah seorang ustadz atau kyai, kehidupannya biasa – biasa saja. Sang kakek hidup dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, sehari – hari kegiatannya menyabit rumput untuk makan kambing peliharaannya, namun ia tidak pernah ketinggalan sholat jamaah di masjid kampungnya. Iapun pendiam, hanya bicara seperlunya saja, tidak pernah mengeluh.

Sehabis shalat isya di masjid, ia menyempatkan diri bersilaturahim ke tempat guru ngaji yang dulu waktu kecil, mengajarkan Surat Al Fatikhah pertama kalinya.

“Alhamdulillah pak, insya alloh shalat jamaah jarang saya tinggalkan, berbagai kegiatan keagamaan di kampus saya, saya usahakan selalu terlibat. Di samping itu seringkali sayapun dijadikan sumber referensi teman – teman saya, sayapun terkadang memberi ceramah di acara – acara kampus.” cerita si aktivis kampus kepada guru ngajinya.

“Alhamdulillah, saya ikut senang kalau begitu… semoga kamu termasuk orang – orang yang diberi anugerah dalam beribadah.” komentar guru ngajinya.

“Namun begini…., setelah melihat kakek tetangga saya meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, saya jadi merenung dan berintrospeksi, apakah saya besok meninggal dalam keadaan seperti itu ?” ungkap si aktivis.

“Kenapa ?” tanya guru ngaji.

“Seringkali setelah saya shalat berjamaah shubuh terutama, dalam hati saya muncul perasaan “senang sekali”, namun setelah itu muncul pula dalam hati “ternyata saya lebih baik dibanding yang lain yang tidak berjamaah”. Tidak berhenti di situ saja, setelah selesai berceramah di depan teman – teman kampus, tidak hanya perasaan senang yang muncul,”sayapun merasa senang ketika dibelakang saya, mereka memuji – muji saya”. Saya jadi bertanya, ikhlas ga amaliah saya atau malah – malah saya riya’ ?” tanya si aktivis.

Mendengar ungkapan aktivis itu, guru ngajinyapun jadi ikut merenung. Kemudian berkata :

”Saya yakin, secara ilmu kamu mungkin lebih mengetahui karena wawasan kamu lebih luas, pendidikanmu lebih tinggi. Namun barangkali saya mengingatkan, seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghozali bahwa apabila didalam diri seseorang yang selesai melakukan suatu ibadah muncul kebahagiaan tanpa berkeinginan memperlihatkannya kepada orang lain maka hal ini tidaklah merusak amalnya karena ibadah yang dilakukan tersebut telah selesai dan keikhlasan terhadap ibadah itu pun sudah selesai dan tidaklah ia menjadi rusak dengan sesuatu yang terjadi setelahnya apalagi apabila ia tidak bersusah payah untuk memperlihatkannya atau membicarakannya. Namun apabila orang itu membicarakannya setelah amal itu dilakukan dan memperlihatkannya maka hal ini ‘berbahaya’.

”Saya tidak menceritakan kepada yang lain, saya hanya merasa senang pak ?” tanya si aktivis.

Guru ngajinyapun menjawab :

”Ya pada awalnya seperti itu….bisikan setan itu teramat halus, pada kondisi – kondisi seperti itu setan mulai membisikkan agar berbuat riya’”

”Ciri – cirinya gimana bisa masuk kategori riya’atau tidak ?” tanya aktivis.

Guru ngajinyapun berkata :

”Menurut pendapat Imam Ali bin Abi Thalib k.w. “Tiga tanda bagi orang yang riya’ adalah malas bila beribadah sendirian, rajin bila beribadah diantara orang banyak, berlebih-lebih ia dalam berbuat amal bila dipuji orang, kurang amalnya bila dicela orang.”

Wallahu a’lam.

(www.kangtris.com)


Responses

  1. Judul : BISNIS 4LIFE INDONEISA
    alamat : http://distributor4life.co.cc/
    Peranti : wordpress

    Blog ini berisi tentang informasi penyakit – penyakit (kanker, jantung, diabetes, HIV, stroke, autisme, lupus, autoimune, dll) yang bisa disembuhkan dengan TRANSFER FACTOR.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: