Oleh: Ummu hanik | 25 Juni 2010

Indahnya Memaafkan

Selepas sholat isya, terlihat seseorang di ruang tamu kang Ilyas. Raut muka yang kusut dan sedikit memerah tak bisa ia sembunyikan.“Sudah tiga hari ini, saya susah sekali tidur kang ? ” keluh orang itu.

” Dikejar – kejar tagihan kartu kredit ya ?” sergah kang Ilyas sambil tersenyum.

” Bukan kang….. bukan. Saya sedang sakit hati.”

” Sampeyan kayak anak muda yang sedang jatuh cinta, pakai sakit hati segala….” celetuk kang Ilyas.

” Karyawan saya, yang saya percaya hampir – hampir 100 %, ternyata menyalahgunakan kepercayaan saya.”

” Maksudnya ?” tanya kang Ilyas.

” Ia pakai uang perusahaan sepuluh juta untuk keperluan kuliah anaknya. ”

” Jadi, gara – gara sepuluh juta, sampeyan susah tidur begitu ?” tanya kang Ilyas.

” Bukan sepuluh juta kang yang bikin sakit hati, tapi merasa dikhianati oleh anak buah yang saya percaya betul… itu yang lebih mahal. ” jawab orang itu.

” Jadi, sampeyan kepingin ga sakit hati biar tidur tidak susah, begitu ?” tanya kang Ilyas.

” Iya. ”

” Gampang, maafkan saja anak buah sampeyan…setelah sampeyan bisa memaafkan, suruh anak buah sampeyan bayar uang yang telah ia pakai.” jawab kang Ilyas..

” Lho kok, memaafkan dulu…. bukan suruh anak buah saya, bayar dulu ? tanya orang itu.

” Dengan memaafkan, kesehatan bisa lebih baik. Para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress (tekanan jiwa), susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.”

Mendengar uraian kang Ilyas, orang itupun terdiam. Sesaat kemudian kang Ilyas terlihat berkata,

” Suat saat ketika Rasulullah saw sedang duduk – duduk bersama sahabatnya, Rasulullah saw bersabda, “Sebentar lagi, salah satu ahli surga akan muncul di hadapan kalian.” Tak lama, seorang laki-laki dari kaum Anshar muncul dengan sisa air wudhu masih menetes dari janggutnya. Ia menenteng terompah di tangan kirinya.

Hari berikutnya, Rasulullah mengulang perkataannya dan orang itu kembali melintas seperti pada kali pertama. Di hari ketiga, Rasulullah mengulang perkataannya, dan kejadian itu kembali terulang.

Mendengar ucapan Rasulullah, Abdullah bin Amr mengikuti lelaki yang dimaksud Rasulullah lalu berkata kepadanya, “Aku bertengkar dengan ayahku, aku tidak akan menemuinya tiga hari, apakah engkau berkenan memberiku tempat menginap?” lelaki itu menjawab, “Silahkan, dengan senang hati.”

Abdullah bin Amr pun menginap di rumah lelaki itu hingga tiga malam berlalu dan Abdullah belum melihat dari laki-laki itu melakukan amal yang disebut sebagai penghuni surga. Sehingga Abdullah memberanikan diri bertanya, “Sudah tiga hari disini, aku tidak melihatmu mengerjakan amal yang membanggakan. Mengapa Rasul menyebutmu sebagai salah satu calon penghuni surga?”.

Lelaki itu menjawab, “Aku memang tidak melakukan amalan-amalan yang istimewa, tetapi sebelum tidur, aku mengingat kesalahan-kesalahan saudaraku seiman, lalu aku berusaha untuk memaafkannya. Aku hilangkan rasa dengki dan iri terhadap karunia Allah yang diberikan kepada saudaraku.”

Setelah mendengar itu, Abdullah berkata, “Ya, itulah yang menyebabkan engkau disebut sebagai calon penghuni surga.”

Mendengar kisah dari Kang Ilyas, orang itupun terlihat mengambil nafas dalam – dalam.

Wallahu a’lam.

sumber: http://www.kangtris.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: