Oleh: Ummu hanik | 25 Juni 2010

Berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal

Parto masih tertunduk lemas, bukan karena memikirkan lesu bisnis angkudesnya namun lemas karena merasa belum berbakti kepada orang tuanya, khususnya ibunya. Saat fikirannya melayang jauh tentang dosa –dosanya karena belum berbakti kepada orang tua, tiba –tiba terdengar ketukan pintu dan salam dari luar rumah kang Udin. Rupanya Syamsul yang datang….Setelah basa – basi sebentar, kang Udinpun sedikit menceritakan permasalahan Parto, ini hal biasa karena mereka sudah selayaknya seperti saudara sendiri, sehingga sering saling mengingatkan diantara satu dengan yang lainnya.

Sesaat kemudian, Syamsulpun ikut bercerita :

“Betul kang Udin, seandainya saja kedua orang tua saya masih hidup semua permintaannya sepanjang saya mampu kerjakan dan tidak bertentangan dengan syariat pasti akan saya lakukan. Namun apa boleh buat…. Kedua orang tua saya sudah tiada. rasa menyesal itu benar – benar lebih terasa disaat mereka semua telah tiada kang ?”

Mendengar keluhan tersebut, kang Udin ikut menambahi .

“Kita masih mempunyai kewajiban kepada kedua orang tua kita, walaupun beliau sudah meninggal ?” kata kang Udin.

“Bagaimana itu kang Udin ?” tanya Syamsul

Kang Udinpun menjelaskan :

“Dalam suatu hadist dikisahkan bahwa suatu ketika datang seseorang menghadap Rasulullah SAW kemudian berkata “Ya Rasulullah apakah masih ada kesempatan untuk berbakti aku kepada orang tuaku setelah keduanya meninggal dunia?” Rasulullah dengan tegas menjawab “Ya, masih ada”. Ada 5 hal yang harus dijalankan setelah kepada seorang anak agar berbakti kepada orang tua yang telah meninggal : Asshalatu ‘alaihima (berdo’a untuk keduanya), Wal isthigfaru lahuma (memohonkan ampun keduanya), Wainfadzu ahdihima (melaksanakan janji-janjinya), Waiqramu shadiqihima (memuliakan teman-teman keduanya), Wasilaturrahimmisilati latu shallu illa bihima (silaturrahmi kepada orang-orang yang tidak ada hubungan silaturahmi kecuali melalui wasilah kedua orang tua)”

Setelah mendengar uraian kang Udin, Syamsulpun terlihat tertunduk, sementara di sisi lain, Parto semakin terdiam dan membisu.

Sudahkan kita do’akan orang tua, di setiap do’a kita ?

(www.kangtris.com)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: